Sakit atau Hanya Pura-Pura?


SAAT ini memang sedang musimnya penyakit, terutama flu. Si kecil pun mengaku tidak sehat. Sebelum mempercayai omongannya, periksa dulu apa benar dia sakit atau hanya berpura-pura.

Pagi itu Andi bangun dengan tidak bersemangat. Bocah delapan tahun yang duduk di kelas tiga SD ini mengaku tidak enak badan.Dia sengaja mengangkat selimut hingga menutupi setengah wajahnya. ”Pokoknya Andi enggak mau sekolah. Andi sakit ma,” katanya kepada sang bunda. Fanny, sang bunda pun bingung menghadapi putranya.


Masalahnya kemarin Andi terlihat sehat dan ceria ketika diajak ke kebun binatang. Atau dia hanya berpura-pura? Sebagai orang tua, mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama dengan Fanny. Lantas bagaimana Anda menanggapinya? Terkadang memang tidak mudah untuk mengetahui jenis penyakit yang tengah diderita si kecil. Bisa saja dia malah sama sekali tidak tampak sakit.

Maka itu teliti lebih dulu sebelum memutuskan memberi izin bagi si kecil untuk tidak sekolah, atau bahkan membawanya ke dokter. Sekolah bisa jadi membosankan baginya. Dia pun mencari berbagai alasan agar sehari saja dapat libur sejenak. Orangtua harus pintarpintar dalam menyiasati hal ini, salah-salah malah Anda yang dapat termakan rayuan manis anak.

Langkah pertama yang tepat adalah mengukur suhu tubuh dengan termometer. Joann Rohyans MD, profesor ilmu kesehatan anak dari Fakultas Kedokteran Ohio State University, mengatakan, temperatur normal tubuh bervariasi. ”Pada pagi hari bisa 36ยบ C dan jika mencapai 38 derajat Celsius pada malam hari masih normal, kecuali kalau sudah mencapai di atasnya,” kata juru bicara untuk Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika ini seperti dikutip dari webmd.com.

Di samping itu, cek tenggorokan dan amandel anak jika mengeluh sakit di bagian itu. ”Amandel yang sakit terlihat gelap dan tidak kemerahan,” kata Rohyans. Perhatikan pula gelagat anak. Logikanya, orang sakit tidak mempunyai tenaga. Taruh rasa curiga jika dia mengaku sakit tenggorokan atau batuk, tetapi bisa berbicara panjang lebar di telepon dengan temannya.

Anak yang sedang tidak sehat pun umumnya menjauhi televisi untuk sementara waktu. Akan ganjil bila melihat anak bagai menempel dengan televisi sementara dia mengaku tidak enak badan.

Tanda-tanda kebohongan anak pun juga bisa dilihat ketika dia mengatakan sakit perut dan tidak beberapa lama kemudian giliran kepalanya yang sakit. ”Tidak mungkin sakit berpindah-pindah, ini patut dicurigai,” kata Presiden Asosiasi Sekolah Perawat National di Silver Spring Donna Mazyck RN Md.

Rasa curiga sudah Anda pegang, akhirnya Anda pun memutuskan bahwa anak hanya berpura-pura sakit. Jangan lantas diam saja, cari tahu mengapa dia sampai berbuat itu. Mungkin saja dia hanya malas berangkat ke sekolah, terlebih lagi jika di sekolah banyak pula temannya yang absen karena tengah sakit flu, berhubung pada saat ini memang sedang musimnya flu.

”Teman yang lain juga lagi banyak yang sakit ma, jadi aku boleh dong istirahat beberapa hari,” kata Rohyans menirukan ucapan seorang anak. Namun, Anda perlu waspada jika ada hal lain selain hal tersebut. Umpama anak tengah menjadi korban bully di sekolah. Royhans menuturkan, cara terbaik menurut mereka untuk keluar dari masalah itu adalah menghindari sekolah, tapi sampai kapan.

Selain itu, anak berbohong mengatakan sakit bisa juga lantaran dirinya menghindar dari ujian pada hari itu. ”Penyebab kebohongan bisa juga karena ketakutan akan tes atau tugas sekolah yang berat pada hari itu,” ujar Mazyck.

Mazyck bahkan mempunyai pengalaman pribadi dalam menghadapi anak semacam ini. Dia pernah mempunyai seorang siswa yang selalu merasa sakit pada waktu yang sama, hari demi hari. Uniknya, anak tersebut selalu saja mengeluh sakit tepat sebelum pelajaran matematika. Ia pun menghubungkan hal tersebut dengan gejala kegelisahan.

Barry Anton PhD, selaku psikolog anak dan remaja di Rainer Behavioral Health, melihat hal ini sebagai sebuah kasus psikologis yang akan berlanjut kepada gejala psikis.

”Anak berpura-pura sakit, hal ini dilakukan untuk menghindari sesuatu,” kata profesor psikologi di Universitas Puget Sound di Tacoma. Anak dalam kasus ini tidak menyadari bahwa masalah psikologis yang dialaminya berujung pada masalah psikis.
”Penyebab sakitnya adalah masalah psikologis,” tutur Anton.

Fenomena ini sangat umum ditemui di masyarakat. Terutama pada anak-anak yang belum mempelajari cara mengatakan perasaan mereka kepada orang lain. Sehingga masalah yang mereka alami dipendam dalam diri sendiri dan tidak dibicarakan dengan orang lain, khususnya kepada orangtua. Jelas ini dapat berdampak buruk pada psikologi anak bersangkutan.

”Ketika beranjak dewasa, biasanya mereka lebih bisa mengutarakan pendapat kepada orang lain dan berbicara soal kegelisahan yang menyelimutinya serta masalah lain, ketimbang menutup diri dan memilih diam dengan kata lain memendamnya,” kata Anton. Lebih jauh Anton mengatakan, depresi mungkin saja menjadi alasan kuat bagi anak untuk berpura-pura sakit.

Anton pun mengingatkan orangtua agar tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada anak, ataupun menuntut anak untuk mencapai prestasi tertentu. Sebab, bukannya termotivasi, anak malah melakukan kebohongan untuk menutupi kekurangannya. Misalnya saja orangtua memiliki harapan besar pada sang anak.

Nyatanya, harapan yang dipikul di punggung anak malah menjadi beban mental anak. ”Orangtua yang punya harapan tinggi pada anak, acap kali membuat anak memiliki tingkat kegelisahan yang tinggi pula,” kata Anton.

Sementara, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang memiliki masalah psikologis akan membuat anak meniru sikap dilakukan orangtua tersebut. Misalnya dengan membolos sekolah ketika dia tengah mengalami masalah. Anton dalam kegiatan praktiknya sering menemui anak meniru mimik orangtua.


Jadi, jika anak mengeluh sakit kepala ketika ”tanggal tua” dan belum menerima gaji, bisa jadi anaknya meniru hal yang sama. Mereka mengaku sakit kepala sehari sebelum ujian matematika dilaksanakan.

Nah, jika hal ini adalah refleksi keluarga Anda, Anton menyarankan untuk mendapat bantuan profesional bagi Anda maupun anak. Sebagai orangtua, sepatutnya Anda dapat mengatasi kegelisahan dan depresi serta masalah lain yang dapat berujung pada gejala psikologis. Barulah anak dapat mengikuti apa yang Anda lakukan ketika masalah datang.

Kalau Anda telah berhasil memastikan bahwa anak hanya berpura-pura sakit, jangan lantas membuatnya merasa nyaman dengan membolehkannya menonton program televisi favorit. Ini malah membuat anak semakin senang tinggal di rumah ketimbang berada di sekolah. Akhirnya ia pun semakin senang berpura-pura sakit.

okezone

0 komentar:

Posting Komentar

 

Costumer Care

Call/sms: 082 138 326 825 / 085 725 740 638

E-mail: kuncollection@gmail.com

Untuk saat ini hanya bisa melayani pesanan minimal 6 potong untuk Jaket Jumper/Hoodie

Kun Collection © 2009 KunCollection is Online Fashion Shop ( Yogyakarta-Indonesia ) BlogUpdate RSS