
South Carolina, Dendrit atau percabangan sel-sel otak yang menjadi faktor penentu kecerdasan banyak ditemukan pada pengguna kokain. Penemuan ini mengarahkan peneliti untuk mengobati pecandu kokain dengan metode baru.
Dalam kondisi orang yang stabil semakin banyak percabangan sel-sel otak maka IQ akan semakin meningkat. Sayangnya yang terjadi pecandu kokain dan methamphetamine, mereka sering terlihat linglung, hilang kendali dan tampak tak berdaya. Namun kini peneliti menemukan efek samping lainnya dari kokain, yaitu menambah jumlah koneksi sel-sel otak.
Dalam studinya, peneliti memfokuskan penelitian pada satu bagian otak yang disebut epigenetik, yakni gen yang terdapat dalam otak yang akan mempengaruhi fungsi keseluruhan otak terhadap tikus yang diujicoba.
"Ketika kami memberikan dosis kecil kokain pada tikus, kami melihat ada perubahan pola gen di otaknya menjadi suatu pola yang aneh. Namun gen itu justru menghasilkan sebuah protein yang bisa meningkatkan fungsi otak seperti kemampuan mengingat dan lainnya," jelas Ian Maze, dari Mount Sinai School of Medicine yang ikut terlibat dalam studi tersebut seperti dilansir dari Times, Kamis (14/1/2010).
Protein yang ditemukan Maze disebut dengan protein G9a. Protein ini terbentuk karena adanya perubahan nucleus accumbens, yakni bagian otak yang berfungsi merasakan senang dan memicu keinginan seseorang. Adanya protein tersebut di otak akan membuat gen yang mengatur pembentukan dendrit atau percabangan sel-sel otak meningkat.
Pembentukan dendrit (koneksi atau percabangan) sel-sel otak sangat erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan seseorang. Semakin banyak percabangan (dendrit) pada otak, semakin tinggi IQ seseorang. Dan hasil studi ini secara tidak langsung menyebutkan ada hubungannya antara kokain dengan peningkatan jumlah dendrit di otak.
"Kami tidak mengatakan bahwa dengan memakai kokain seseorang bisa lebih pintar. Kami hanya menunjukkan bahwa ada perubahan pola gen pada otak ketika kokain masuk ke dalam tubuh dan masuk ke otak. Dan gen yang masih kami teliti itu ternyata memicu protein yang bisa meningkatkan fungsi otak," jelas Maze.
Maze dan rekannya berharap penemuannya ini bisa jadi petunjuk untuk menangani para pecandu kokain dengan lebih fokus pada gen tersebut.
"Mudah-mudahan penemuan ini tidak disalahartikan. Sebaliknya, hasil studi ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk membuat metode baru penanganan kecanduan kokain dengan cara mengatur bagian epigenetik pada otaknya," kata Peter Kalivas, profesor neuroscience dari Medical University of South Carolina.
Pecandu kokain dan methamphetamine memang paling sukar disembuhkan. "Ada banyak pengobatan untuk menolong pecandu heroin, tapi sedikit sekali obat untuk pecandu kokain yang benar-benar efektif," ujar Dr Nora Volkow dari the National Institute on Drug Abuse.
Hampir dua pertiga pecandu kokain umumnya diberi obat levamisole oleh dokter, namun obat itu berpotensi menyebabkan masalah sistem imunitas dan risikonya bisa lebih parah lagi. "Untuk itu, studi ini memang penting dan sangat berguna di masa depan," kata Maze.
detik







Follow us on Twitter
Fan us on Facebook
0 komentar:
Posting Komentar