
KEGEMARAN menyantap makanan laut, kurang mengonsumsi air putih, dan minimnya aktivitas fisik bisa memicu penyakit batu saluran kencing. Deteksi sedini mungkin mampu mengurangi risiko gagal ginjal.
Ahli bedah urologi dari RS St Elisabeth dr Eriawan Agung Nugroho SpU mengatakan, gaya hidup manusia juga menjadi pemicu terjadinya penyakit batu saluran kemih.
”Selain itu, orang-orang yang pekerjaannya duduk dan kurang bergerak lebih gampang terkena batu saluran kemih ketimbang orang yang pekerjaannya banyak gerak atau kerja fisik,” katanya di sela- sela seminar kesehatan “Penanganan Batu Saluran Kencing secara Rasional” di RS St Elisabeth, Semarang, Rabu, 13 Januari 2010.
Eriawan menyebutkan, kebiasaan menahan buang air kecil akan menimbulkan gangguan air kemih dan berakibat timbulnya infeksi saluran kemih. ”Terjadi pengendapan kristal dan menyebabkan kesulitan untuk buang air kecil,” paparnya.
Selain itu, faktor-faktor intrinsik seperti genetik, ras, umur, dan jenis kelamin, pembentukan batu saluran kemih juga dipengaruhi faktor ekstrinsik, seperti geografi dan iklim daerah. ”Jumlah penderita batu saluran kencing selalu meningkat setiap tahun. Di Indonesia dengan perkiraan penduduk sebanyak 201 juta, angka penderita batu saluran kencing mencapai 294.000 orang per tahun,” imbuhnya.
Batu saluran kencing yang tidak tertangani dengan baik akan memengaruhi organ lain. Eriawan melanjutkan, akumulasi dari batu di saluran kencing akan memberikan efek sumbatan.
”Jika terus terjadi, akan menyebabkan ginjal menipis, dan semakin lama dapat merusak ginjal,” ujarnya seraya menambahkan memasuki usia 30 tahun rajin memeriksakan diri ke dokter.
Dia menyarankan, solusi untuk mengatasi batu saluran kencing adalah diet makanan, perbanyak olahraga, dan konsumsi banyak air putih. ”Salah satu kunci untuk melarutkan dengan air putih harus mencakup 2-3 liter per hari. Semakin banyak air putih yang dikonsumsi, semakin banyak pula cairan untuk melarutkan akumulasi pembentukan batu,” sebutnya.
Humas RS St Elisabeth Probowatie Tjondronegoro menambahkan, penanganan sedini mungkin diperlukan supaya pasien dapat meningkatkan kualitas hidupnya. ”Perkembangan dunia kedokteran semakin hari semakin pesat sehingga penerapannya kian maju,” ucap Probowatie.
Wanita yang juga berprofesi sebagai psikolog ini mengatakan, penanganan kasus tersebut bisa ditangani dengan infasive maupun noninfasive.
Dia melanjutkan, untuk menekan risiko terkena batu saluran kemih hanya ada satu cara yaitu mengubah pola hidup lebih sehat. ”Mencegah jauh lebih baik ketimbang mengobati,” ujarnya.







Follow us on Twitter
Fan us on Facebook
0 komentar:
Posting Komentar