Alih Fungsi Minibar


MESKI bisa membuat rumah tampak lebih cozy, kehadiran minibar tak selalu diperlukan. Dibutuhkan beberapa pertimbangan sebelum kita betul-betul mengaplikasikannya dalam hunian.

Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan saat seseorang ingin mendesain rumahnya. Entah berdasar pada selera ataupun sekadar mengikuti tren. Selain itu, ada pula beberapa faktor lain. Biasanya karena pengaruh lingkungan, budaya, kondisi sosial, serta gaya hidup sang penghuni.

Rumah yang dibangun karena pengaruh budaya, salah satu contohnya adalah yang memiliki minibar. Seperti kita ketahui, minibar umumnya terdapat di rumah-rumah di belahan dunia Barat. Cuaca dingin memungkinkan masyarakat di sana menerapkan konsep minibar yang kerap dijadikan tempat untuk meneguk minuman penghangat badan seperti wine.

Kalaupun hal tersebut diterapkan di rumah-rumah di belahan dunia Timur, khususnya Indonesia, minibar tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Minibar tersebut memiliki fungsi lain, yakni sebagai tempat untuk sarapan. Berbagai menu makanan dan minuman yang berada di sana pun berbeda. Area itu bukanlah tempat menyimpan minuman beralkohol layaknya minibar di Barat, melainkan sudah beralih ke minuman kopi atau sejenis teh; walau sesekali minibar juga dilengkapi dengan minuman jenis soft drink.
Menurut arsitek Annahape, rumah yang menerapkan minibar memang ”berkiblat” pada budaya Barat, lalu dibawa ke Indonesia dan beradaptasi. Di Indonesia, konsep minibar ada dua. Ada yang berfungsi sebagai tempat breakfast, biasanya diletakkan di samping pantry. Satu lagi, minibar yang berfungsi sebagaimana mestinya, seperti yang ada di Barat.

”Banyak masyarakat Indonesia yang salah paham dalam menerapkan konsep minibar di rumah mereka, sehingga muncullah minibar yang berfungsi lain. Salah satunya sebagai tempat breakfast,” kata Annahape.

Namun, terlepas dari itu semua, menerapkan minibar di dalam rumah sudah menjadi pilihan karena sifatnya yang simpel, menarik, dan tidak memakan banyak tempat.

Hal senada diungkapkan arsitek Denny Setiawan.Menurutnya, penerapan minibar sebenarnya berawal dari ciri kebersamaan masyarakat Indonesia, dan pantry adalah simbol kebersamaan yang sifatnya informal. Kalaupun ada pelengkap yang biasa disebut minibar, itu lantaran budaya kita yang mudah mengikuti budaya lain.

”Jadi, apa yang pernah dilihat di negara lain adalah sesuatu yang mewah bagi kita, sehingga diterapkanlah di Indonesia. Tapi, hal tersebut bukan sesuatu yang buruk juga. Hanya, perlu penyesuaian yang cocok dengan budaya kita,” tutur Denny.

Annahape menambahkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memutuskan untuk membuat minibar, di antaranya tingkat kebutuhan. Sebelum membuat minibar, sebaiknya kita berpikir, apakah kita benar-benar membutuhkan tempat tersebut? Jika kita membuatnya hanya untuk mengikuti tren dan tidak berdaya guna, Annahape berpendapat tidak perlu membuat minibar. Karena itu, yang penting dalam proses mendesain rumah adalah kembali kepada si pemilik, apakah dia benar- benar membutuhkan ”sesuatu” atau tidak?

Setelah mengetahui kebutuhan kita, barulah beralih ke fungsi minibar itu sendiri. Jika berfungsi sebagai tempat sarapan pagi, buatlah berdampingan dengan pantry. Biasanya minibar dilengkapi dengan peralatan dapur lain. Bila minibar berfungsi sebagai minibar yang ”sesungguhnya”, yakni untuk menempatkan minuman keras sejenis bir dan anggur, maka letakkan dia di ruang hobi.

”Semua berangkat dari fungsi. Jika minibar dibangun untuk membuat masakan praktis seperti sarapan, peletakannya tidaklah begitu penting. Terkecuali minibar berfungsi sebagai tempat kongko atau sekadar menikmati minuman dan makanan ringan, dia boleh dibuat,” tukas Annahape.

Hal terakhir yang harus dipertimbangkan adalah si pengguna. Kenapa? Karena ini adalah salah satu syarat untuk mengetahui seberapa penting keberadaan minibar di rumah kita. Biasanya, pemakai yang menganggap minibar penting pasti memilih bahan-bahan yang tepat untuk digunakan, dan tentu perawatannya juga harus mudah.

”Jika ingin menerapkan minibar yang low maintenance, pilihlah bahan yang terbuat dari kayu. Sedangkan untuk yang high maintenance cenderung berbahan kaca,” ujar Annahape.

okezone

0 komentar:

Posting Komentar

 

Costumer Care

Call/sms: 082 138 326 825 / 085 725 740 638

E-mail: kuncollection@gmail.com

Untuk saat ini hanya bisa melayani pesanan minimal 6 potong untuk Jaket Jumper/Hoodie

Kun Collection © 2009 KunCollection is Online Fashion Shop ( Yogyakarta-Indonesia ) BlogUpdate RSS